Pada zaman dahulu kala, ada dua orang bersaudara. Kakak laki-laki itu kaya dan sukses, tetapi jahat dan sombong. Sedangkan adik laki-laki itu sangat miskin, tetapi baik hati dan murah hati.
Suatu hari, saudara laki-laki yang miskin dan istrinya mendapati bahwa mereka tidak memiliki apa pun untuk dimakan di rumah mereka. Mereka juga tidak punya uang, dan tidak ada yang bisa mereka jual. Lebih buruk lagi, keesokan harinya adalah hari libur, hari perayaan. Sang saudara yang malang berada dalam dilema. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Istri pria miskin itu pun meminta suaminya untuk pergi ke saudaranya meminta bantuan, lalu pria malang itu menghela napas. Ia tidak suka meminta bantuan saudaranya, karena ia tahu betapa jahat dan egoisnya saudaranya itu. Tetapi esok hari adalah hari libur, dan ia benar-benar tidak tahu bagaimana lagi cara mendapatkan makanan. Maka orang miskin itu mengenakan jubahnya yang compang-camping dan berjalan ke rumah saudaranya yang kaya.
Pria miskin itu mengutarakan maksud kedatangannya untuk memberinya sedikit daging agar dapat ikut merayakan hari perayaan. Namun yang dia dapat bukanlah daging, melainkan kuku sapi. Kakak yang kaya itu memberikan kuku bukan untuk adiknya, tapi justru suru memberikannya kepada Hiysi.
Pria malang itu berterima kasih kepada saudaranya, dan membungkus kuku sapi itu dengan jubahnya yang compang-camping, lalu mulai berjalan kembali ke rumahnya.
Hiysi si Goblin Hutan tinggal jauh di dalam hutan, maka pria malang itu berbalik dan mulai berjalan menuju hutan. Hutan itu gelap dan suram, namun pria malang itu bertekad untuk mengantarkan kuku sapi itu kepada Hiysi. Maka ia berjalan dan terus berjalan menembus pepohonan. Setelah beberapa saat, dia bertemu dengan beberapa penebang kayu.
Pria malang itu lalu meminta petunjuk lokasi gubuk si Hiysi, penebang kayu pun memberi tahu arah jalan yang harus dilewati. Selain itu, penebang kayu juga memberikan beberapa pesan kepada si pria malang.
Penebang kayu itu berkata, bahwa Hiysi sangat menyukai daging. Dan dia akan menawarkan perak, emas, dan batu permata sebagai tanda terima kasih. Jangan terima semua itu, tapi mintalah batu penggilingnya. Jika ia mencoba menawarkan sesuatu yang lain tolaklah, mintalah hanya batu penggilingnya.
Pria malang itu berterima kasih kepada para penebang kayu, lalu melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian ia melihat sebuah gubuk. Ia masuk ke dalam, dan di sana duduk Hiysi, si Goblin Kayu itu sendiri.
Pria malang itu lalu memberikan kuku sapi itu kepada Hiysi, lalu Hiysi yang senang tanpa pikir panjang segera memakan kuku sapi itu.
Hiysi yang gembira pun mulai menawarkan berbagai hadiah kepada si pria malang, namun dia teringat pesan agar tetap menolak apa pun dan hanya meminta batu penggilingannya saja. Hiysi pun menolak dan mencoba menawarkan apa pun yang pria malang inginkan. Namun, pria malang itu tetap bersikeras meminta batu penggilingan.
Hiysi tidak tahu harus berbuat apa. Dia telah memakan kuku sapi itu, dan tidak dapat membiarkan orang malang itu pergi tanpa memberikan hadiah sebagai balasannya.
Hiysi pun akhirnya memberikan batu penggilingannya, dan mulai menjelaskan cara kerjanya. Batu itu akan memberi apa pun yang diinginkan, cukup ucapkan keinginanmu dan katakan giling, batu penggilingku. Saat sudah cukup dan ingin batu penggiling berhenti, cukup katakan cukup dan selesai. Maka batu penggiling itu akan berhenti.
Pria malang itu berterima kasih kepada Hiysi, dan membungkus batu penggiling ajaib itu dengan jubahnya yang compang-camping, lalu mulai berjalan kembali ke rumahnya.
Dia berjalan terus dan terus berjalan, dan akhirnya sampai di rumahnya. Istrinya menangis, mengira dia sudah meninggal. Pria malang itu menceritakan kisah petualangannya kepada istrinya. Kemudian, sambil meletakkan batu penggiling ajaib di atas meja, dia berkata, ‘Gilinglah, batu penggilingku! Berikan kami jamuan makan yang layak untuk seorang raja.’
Batu penggiling mulai berputar, dan di atas meja terhampar hidangan-hidangan paling lezat yang pernah ada. Pria miskin dan istrinya makan dan makan sampai mereka tidak bisa makan lagi. “Cukup dan selesai!” perintah pria malang itu, dan batu penggiling berhenti berputar.
Keesokan harinya, pria miskin dan istrinya merayakan hari raya dengan gembira. Ada cukup makanan, dan pakaian baru untuk dikenakan. Sejak saat itu mereka tidak pernah kekurangan apa pun. Batu penggiling memberi mereka rumah baru yang bagus, ladang hijau yang penuh dengan tanaman, kuda dan sapi, serta cukup makanan dan pakaian untuk dikenakan. Tidak lama kemudian mereka memiliki begitu banyak, sehingga mereka tidak perlu lagi menggunakan batu penggiling.
Saudara laki-laki yang kaya mendengar tentang perubahan nasib saudara laki-lakinya yang miskin menjadi penasaran, maka saudara laki-laki yang kaya itu pergi ke rumah saudara laki-lakinya yang miskin.
Saudara laki-laki yang miskin itu menceritakan semuanya kepadanya tentang Hiysi dan hadiah batu penggiling ajaibnya. Saudara yang kaya itu berpikir untuk memiliki batu penggiling itu, maka dia pun meminta adiknya untuk menunjukkan batu penggiling itu.
Sang saudara yang malang, tanpa mencurigai saudaranya melakukan kejahatan pun melakukannya. Ia meletakkan batu penggiling di atas meja dan berkata, ‘Gilinglah, batu penggilingku! Berikanlah kami makanan yang enak.’ Seketika itu juga batu penggiling mulai berputar dan keluarlah pai, kue, dan roti yang paling lezat di atas meja.
Saudara yang kaya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, lalu meminta adiknya untuk menjual batu pemggilingan itu kepadanya. Namun pria malang itu menolaknya, tidak habis akal saudara kaya itu kini berusaha untuk meminjamnya.
Sang saudara yang malang berpikir sejenak, tidak ada salahnya membiarkan saudaranya memiliki batu penggilingan itu sementara waktu. Saudara laki-laki yang kaya itu sangat gembira. Ia mengambil batu penggiling dan lari membawanya, tanpa bertanya bagaimana cara menghentikannya. Ia menaruh batu penggiling itu ke dalam perahu dan mendayung ke laut, tempat para nelayan sedang menarik hasil tangkapan ikan mereka.
Para nelayan saat itu sedang menggarami ikan, dia berpikir mereka akan membayar mahal untuk garam berkualitas. Kini ia sudah jauh di tengah laut, jauh dari daratan mana pun. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya ketika ia berkata, ‘Giling, batu penggilingku! Beri aku garam, sebanyak yang kau bisa!’
Batu penggiling mulai berputar, dan keluarlah garam terhalus dan terputih yang tidak dapat dibayangkan. Tidak lama kemudian perahu itu penuh, orang kaya itu memutuskan untuk menghentikan batu penggiling. Namun dia tidak tahu caranya, batu penggiling itu terus berputar mengeluarkan garam terhalus dan terputih.
Orang kaya itu memohon dan meminta batu penggiling untuk berhenti, namun dia tidak tahu kata-kata ajaibnya. Batu penggiling terus berputar dan menuangkan garam dan lebih banyak garam. Saudara laki-laki yang kaya itu mencoba melemparkan batu penggiling ke laut, tetapi dia tidak mampu mengangkatnya. Perahu itu sekarang begitu penuh dengan garam sehingga mulai tenggelam.
Walau sudah berteriak minta tolong dengan keras, tidak ada seorang pun di sana yang mendengarnya. Batu penggiling terus berputar, menuangkan garam, dan perahu terus tenggelam hingga akhirnya tenggelam ke dasar laut bersama orang kaya dan batu penggiling itu.
Akhirnya orang kaya itu tenggelam karena keserakahannya. Namun batu penggiling ajaib itu terus berputar, bahkan di dasar laut, menuangkan garam terputih dan terbaik. Batu itu terus berputar di sana hingga hari ini, menghasilkan semakin banyak garam. Itu mengapa air laut itu asin.